Beberapa tahun lalu, AI masih dianggap hal futuristik. Sekarang, di dunia kerja dan pendidikan, AI seperti ChatGPT sudah jadi alat bantu harian. Admin menggunakannya untuk menyusun laporan, marketer untuk brainstorming konten, trainer untuk merapikan materi, bahkan pelajar untuk memahami topik yang terasa rumit.
Masalahnya, banyak orang merasa:
Saya sudah pakai ChatGPT, tapi kok hasilnya biasa saja?
Di EL MATRA, tempat kursus komputer Makassar, kami sering menemui hal ini. Bukan karena AI-nya kurang pintar. Hampir selalu karena prompt yang digunakan terlalu asal.
ChatGPT tidak membaca pikiran. Ia bekerja berdasarkan instruksi yang kita berikan. Tanpa prompt yang jelas, hasilnya akan:
Sebaliknya, saat prompt disusun dengan baik, hasilnya bisa jauh lebih relevan dan siap pakai.
Buatkan caption Instagram
Hasilnya biasanya generik, datar, dan terasa AI banget.
Buatkan caption Instagram untuk lembaga kursus komputer Makassar, target usia 18-25 tahun, gaya bahasa santai tapi sopan, fokus ke manfaat skill digital untuk kerja.
Perbedaannya langsung terasa. AI jadi paham konteks.
Inilah yang disebut prompt literacy”kemampuan dasar yang sekarang mulai dicari di dunia kerja.
Orang yang paham dasar AI dan prompt:
Sebaliknya, yang asal pakai AI sering merasa:
AI-nya tidak membantu.
Padahal masalahnya ada di cara menggunakan.
Di EL MATRA, kursus komputer Makassar, pendekatan AI sudah mulai diintegrasikan ke dalam proses belajar. Bukan sebagai jalan pintas, tapi sebagai alat bantu produktivitas.
Peserta tidak hanya diajarkan menggunakan aplikasi, tapi juga:
Karena di dunia kerja hari ini, yang dibutuhkan bukan sekadar bisa pakai AI, tapi tahu kapan, bagaimana, dan untuk apa AI digunakan.
AI adalah alat. Skill manusianya tetap penentu. Menurut kamu, ChatGPT selama ini lebih sering membantu atau justru bikin bingung?